Rumoh Geudong, Situs Pelanggaran HAM di Aceh Diresmikan

GAMPONGCOTBAROH.DESA.ID – Bupati Pidie Roni Ahmad alias Abusyik, beserta sejumlah aktivis lintas organisasi, meresmikan situs Rumoh Geudong yang berlokasi di Gampong Bili Mukim  Aron, Glumpang  Tiga, Pidie, sebagai salah satu tempat penyiksaan rakyat Aceh tang dituduh terlibat mendukung Gerakan Aceh Merdeka di era Operasi Jaring Merah di era 1989-1998.

Di hadapan ratusan orang dan korban yang masih hidup, Roni Ahmad, Kamis (12/7/2018) mengatakan bahwa pelanggaran HAM berat di Aceh bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Aceh semata, juga Pemerintah Pusat. Dalam kesempatan itu dia berharap para korban yang masih hidup untuk terus bangkit dan jangan larut dalam kesedihan.

“Rumoh Geudong adalah lambang getirnya konflik Aceh bagi masyarakat sipil, ini merupakan pelajaran luar biasa kepada semuanya. Saya harap para korban jangan terus bersedih, tetapi harus bangkit membangun kehidupan kembali dan mengejar ketertinggalan,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejarah Rumoh Geudong, menjadi cambuk baginya untuk bekerja lebih giat untuk kesejahteraan rakyat. “Kita harus mengisi perdamaian kurnia Allah ini dengan memeliharanya agar tidak terulang kembali.”

Masyarakat pidie katanya tidak boleh lupa apa yang sudah terjadi di tempat ini. “Amanah supaya Pemerintah Aceh mengambil tanggung jawab tentang masalah ini dan jawaban saya, bukan saja pemerintah aceh tetapi juga pemerintah NKRI harus bertanggung jawab atas kejadian yang dahsyat dalam masa konflik Aceh. Soal harta benda itu adalah pengorbanan untuk mencapai cita-cita bangsa. Tetapi yang paling berharga, yang tidak bisa dijual beli adalah trauma yang berkelanjutan,” katanya.

Acara dimulai dengan zikir oleh berbagai ormas dari wilayah Pidie, diikuti oleh wakil para korban pembantaian dan penganiayaan di masa konflik di Rumoh Geudong. Dalam kesempatan itu para korban menyampaikan tuntutan antara lain akses fasilitas publik dan ahli waris mereka  kesehatan pendidikan, kontribusi yang memadai untuk para korban pelanggaran HAM berat, menjaga perdamaian supaya tidak terulang lagi dan mengadakan peringatan setiap tahun, merawat situs tugu untuk menjadi bahan pendidikan bagi masyarakat.

Acara yang diinisiasi oleh LSM seperti KontraS Aceh, LSM Paska, menghadirkan para korban dan juga Nur Djuli, Teuku Hadi, Otto Syamsudin Ishak, dan lainnya.

Di Olah dari : acehtrend.com

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan