Produksi Kakao di Pidie Merosot Akibat Serangan Hama

GAMPONGCOTBAROH.DESA.ID – SIGLI, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pidie, Ir Syarkawi MSi, mengungkapkan bahwa sejak tiga tahun terakhir ini hasil produksi kakao di Pidie turun drastis. Dari produksi 1 ton per hektare, kini turun menjadi 400 Kg/ha. Padahal, kakao merupakan hasil perkebunan unggulan di Pidie yang luas lahan tanamnya mencapai 10 ribu hektare. Dengan harga yang bertahan di angka Rp 37.000/Kg.

Kakao

Gambar diatas merupakan potret kondisi buah kakao yang telah diserang hama, gambar ini diambil pada  salah satu perkebunan rakyat milik warga Gampong Cot Baroh pada tahun 2015.

“Hama tanaman menjadi penyebab terpuruknya produksi kakao di Pidie sejak tiga tahun terakhir,” ungkap Syarkawi pada acara pengenalan pestisida nabati pada petani kakao, dengan menghadirkan narasumber Prof Ir Loekas Soesanto MS PhD dari Jenderal Soedirman University Purwokerto, Jawa Tengah, di Dishutbun Pidie, Kamis (12/5).

Menurut Syarkawi, hama yang paling sering menyerang buah kakao, yakni hama jenis Phytoptora yang membuat kondisi buah kakao menghitam dari pangkal hingga ujung buah.

Hama lainnya, penggerek buah kakao (PBK) dan hama Helopeltis, yang membuat buah menjadi cepat busuk. “Meski dari luar buah kakao tersebut terlihat cerah, tapi biji di dalamnya menggumpal keras,” jelasnya.

Berdasarkan informasi dari pemerintah, untuk saat ini belum ada solusi penyembuhan total serangan hama tersebut. Meski dilakukan penyemprotan hama secara rutin tetap saja tidak efektif. Bahkan, dinas terkait pernah membuka Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). “Namun, program tersebut juga tidak efektif untuk membasmi hama yang menyerang kakao di Pidie,” ujarnya.

Cara terbaru yang mungkin bisa mengendalikan hama ini, dengan menggunakan pestisida nabati yang kemarin diperkenalkan oleh Prof Loekas. Karena menurut profesor bidang pertanian itu, penggunaan pestisida nabati ini lebih alami dan bisa dilihat hasilnya dalam waktu satu bulan. Karena itu, ia akan melakukan uji coba pada kebun kakao seluas 1 Ha di Gampong Hagu, Kecamatan Padang Tiji, dalam pengawasan Fakultas Pertanian Unsyiah, untuk mengetahui efektifitas penggunaan pestisida nabati ini terhadap tanaman kakao di wilayah Pidie.

Profesor Loekas Soesanto PhD, dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, dalam paparannya kemarin, memperkenalkan pestisida nabati dengan nama Metabolit Sekunder Agensia (MSA). Ia meyakini, penggunaan MSA ini lebih efektif menangkis serangan hama, dan bahan baku untuk membuatnya pun mudah didapat.

Bahan baku untuk membuat pestisida ini; air cucian beras yang tidak mengandung pengawet (seperti beras Raskin) dicampur dengan air kelapa tua, gula pasir, dan larutan pemutih pakaian (bayclien).

“Empat jenis bahan yang telah dicampur ini kemudian dimasak sampai mendidih. Seterusnya disimpan dalam jeriken dan hindari dari sinar matahari. Setiap digunakan harus dikocok dulu,” jelasnya.

Kata Prof Loekas, MSA adalah pengendalian hayati hasil penelitian yang dilakukannya di Belanda pada tahun 2012. Hasil temuan itu telah banyak digunakan para petani dalam membasmi hama penyakit.

“Kami imbau petani mencoba menggunakan MSA dalam memberantas hama penyakit pada kakao. Sebab, membuat MSA itu sangat mudah dan murah,” kata Prof Loekas.

Kepala Laboratorium Hama Penyakit di Dinas Perkebunan Aceh, Ir Cut Iriana MSi, mengatakan bahwa setiap pemilik kebun ikut bertanggung jawab mencegah serangan hama. Karena jika tanaman di kebunnya terserang hama penyakit, bisa menular ke kebun di sekitarnya.

“Karena itu kami meminta setiap petani kakao mencoba membuat Metabolit Skunder Agensia ini di rumah masing-masing. Sehingga pengendalian hama penyakit ini bisa dilakukan secara intensif,” katanya.

Jika semua petani kakao di Pidie mengikuti saran ini, perubahannya bisa langsung terlihat. “Untuk itu, kami minta petani di Pidie membuat MSA ini di rumah, dan mulai sekarang, air cuci beras dan air kelapa tua harus disimpan untuk bahan baku membuat MSA,” kata Cut, sambil meminta petugas Dishutbun Pidie juga aktif memantau setiap perubahan yang dihasilkan dari upaya bersama dalam meningkatkan produksi kakao di kabupaten ini.

Sumber : aceh.tribunnews.com

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan