Balada Masuk SD Harus 7 tahun

GAMPONGCOTBAROH.DESA.ID | Tahun ajaran baru selalu disambut gempita oleh para siswa baru. Mereka umumnya sangat bersemangat untuk memulai status sebagai murid dari salah satu institusi pendidikan. Tak hanya siswa baru, para orangtua juga tak sedikit yang ikut bersemangat berubah status dari orangtua balita menjadi orangtua seorang anak sekolah atau pelajar.

Siswa SDN Cot Baroh Sedang Mengikuti Proses Belajar

Siswa SDN Cot Baroh Sedang Mengikuti Proses Belajar

Namun sayang, kegembiraan tahun ajaran baru tidak serta merta dinikmati oleh seluruh siswa lulusan taman kanak-kanak dan orangtua mereka. Kebijakan pemerintah yang mewajibkan anak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) dengan usia minimal tujuh tahun, membuat beberapa anak terpaksa menangguhkan kelanjutan pendiidkan mereka ke SD.

Tetangga saya misalkan, ia terpaksa menangguhkan anaknya masuk SD karena usia sang anak belum genap tujuh tahun pada saat penerimaan siswa baru. Saat itu usia sang anak baru enam tahun lebih, namun bila menunggu tahun berikutnya usia sang anak akan menjadi tujuh tahun lebih. Saat itu, anak tetangga saya sudah lulus TK B, namun akhirnya terpaksa harus “mengganggur” satu tahun karena usia yang belum genap.

Tetangga saya yang lain, akhirnya memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta yang jaraknya lumayan jauh dari rumah – padahal di kompleks rumah saya ada tiga SD Negeri yang berderet berdampingan. Meski beberapa sekolah swasta ada yang ketat dengan syarat usia, namun bila sang anak dinilai mampu menjadi siswa mereka, beberapa sekolah swasta tersebut biasanya mau menerima.

Persyaratan usia yang lumayan ketat tersebut saya perhatikan, sepertinya hanya terjadi di SD Negeri. Saya tidak tahu apa alasannya. Sempat terpikir, apa mungkin persyaratan usia tersebut akibat jumlah SD Negeri yang tidak seimbang dengan jumlah calon siswa yang berminat sekolah di tempat tersebut?

Sebab, tetangga saya yang lain yang juga memiliki anak berusia enam tahun lebih, dan tidak diterima di SD Negeri. Akhirnya memutuskan memasukan anaknya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri. Sama-sama sekolah pemerintah, namun MI dibawah Kementrian Agama, bukan Kementrian Pendidikan.

Bila memang kurang antara sekolah negeri dengan calon siswa mengapa tidak dibangun sekolah tambahan? Setidaknya untuk tingkat SD. Apalagi siswa SD masih tergolong kanak-kanak yang butuh pengawasan lebih dari orangtua. Toh untuk masuk SMP Negeri atau SMA Negeri penilaiannya cukup jelas, yakni berdasarkan nilai ujian.

Apalagi setiap ibu tidak mungkin kan dipaksa melahirkan bulan Juni atau bulan sebelumnya agar saat anak-anak tersebut mendaftar ke SD Negeri bisa genap tujuh tahun? Anak saya saja lahir bulan Oktober, sehingga saat mendaftar di SD kelak usianya mungkin masih tujuh tahun kurang beberapa bulan.

Memang tidak semua orangtua memilih memasukan anaknya ke SD Negeri, ada juga yang sejak awal memang sudah berniat menyekolahkan anak-anaknya ke swasta. Namun bila ada sekolah negeri dekat rumah dengan kualitas bagus – kalau saya – pasti akan menyekolahkan anak saya ke sekolah negeri. Mungkin ada baiknya anak-anak yang berusia enam tahun bisa juga bersekolah di SD Negeri – dengan catatan dia memang sudah siap. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mendengar cerita dari tetangga, anaknya yang masih berusia enam tahun lebih boleh masuk ke SD Negeri namun harus “membayar uang bangku”. Ah, Salam Kompasiana! (*)

kompasiana.com
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan