Strike di Waduk Paya Raoh

* Oleh Muhammad Akmal.

Setiap hari banyak masyarkat Kemukiman Aron Kecamatan Glumpang Tiga dan juga ada dari luar Kemukiman Aron bahkan dari luar Glumpang Tiga, mereka menjadikan waduk Paya Raoh sebagai tempat rekreasi memacing, sore adalah waktu yang tepat untuk memacing ikan di waduk Paya Raoh, ada yang muda, tua, bahkan anak kecil pun berbondong-bondong untuk menimati “strike” di Waduk Paya Raoh.

Tidak perlu lama menunggu “strike”, karena di waduk Paya Raoh saat ini banyak ikan hasil penangkaran beberapa waktu lalu, waktu penangkaran warga dilarang memancing. Di Waduk Paya Raoh banyak ikan tersebar, biasanya ikan yang di dapati pemancing antara lain ikan nila, mujair, gabus dan lele, ikan nila dan mujair adalah ikan dari penangkaran sedangkan gabus dan lele asli dari Waduk Paya Raoh.

Orang dewasa para penikmat “strike” di Waduk Paya Raoh kadang ada yang datang pagi Ke Paya Raoh dan pulangnya sore, sedangkan untuk anak-anak yang masih pelajar atau siswa datangnya setelah pulang sekolah dan mereka pulang sore dengan hasil yang cukup lumayan.

Paya Raoh selain menyimpan sumber daya alam ikan yang melimpah juga menyimpan panorama alam dengan pemandangan yang elok. Ada jembatan dan irigasi disana yang dibangun dengan bagus dan kokoh, banyak orang dari kampong lain berkunjung ke Paya Raoh karena pemandanganya yang begitu indah.

Konon Paya  Roah ini adalah peninggalan Abu Daud Beureueh, sudah banyak orang bercerita tentang daya magis kepemimpinan Daud Beureueh. Tokoh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) itu tak hanya dikenal sepak terjangnya memimpin perang gerilya dan berpidato menyihir massa, tetapi juga tak segan-segan mengayun cangkul dan bergelimang lumpur bersama rakyatnya. Salah satu kisah yang abadi adalah apa yang terjadi di Paya Raoh, Pidie, 14 Juli 1963.

Saat itu, Daud Beureueh yang sudah turun gunung, memimpin kerja bakti yang melibatkan 2.000 orang untuk menrenovasi bendungan saluran irigasi yang telah dibangun sebelumnya oleh seorang Tgk yang dikenal oleh masyarkat Gampong Cot Tunong dan Gampong Cot Baroh dengan sebutan Tgk Raoh, Sehingga bendungan irigasi diberi nama dengan Paya Raoh ( Paya dalam bahasa Aceh Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia bendungan atau waduk) Pada saat itu rakyat yang kecewa karena bupati setempat tak kunjung menyelesaikan masalah pengairan sawah, mendatangi Daud Beureueh. Di tangan ulama itu, masalah pun terpecahkan.

* Muhammad Akmal,  Remaja Gampong Cot Baroh. Email: Akmalfhlevi@gmail.com

Berikut rekaman lensa terkait Paya Raoh :

Paya Raoh 14 Juli 1963 (Sumber : Twitter Apa Geunpang @ucokparta)

Facebook Comments

2 Respon

  1. Aji Panjalu berkata:

    Sukses untuk warga gampong cot baroh yg punya temoaz rekreasi lokal yang multifungsi. terimaksih juga kpd Daud Beureuh yg telah meninggalkan jejak penting dan bermanfaat bagi warga, ternyata tidak seperti yg ditulis dalam buku sejarah

Tinggalkan Balasan