Ketika Musim Panen Tiba, Tradisi Keumukoh Terancam Hilang

www.gampongcotbaroh.desa.id | Cot Baroh (02/03/2015) Petani Gampong Cot Baroh saat ini sedang memasuki musim panen padi tahun 2015, memanen padi dengan cara tradisional yang disebut dengan keumeukoh terancam hilang akibat perkembangan kemajuan jaman salah satunya perkembangan mesin-mesin pertanian yang terus berevolusi.

Keumeukoh adalah puncak dari menanam padi pada kebanyakan tempat di Aceh. Keuemeukoh atau panen padi, merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu para petani. Padi yang menguning dihamparan sawah yang membentang luas menunggu dipanen, dengan bulir-bulir yang berat menggantung membuat batang padi merunduk rendah. Kadang-kadang, batang padi sampai rebah karena beban bulir padi yang berat.

Dikebanyakan daerah di Aceh, keumeukoh dilakukan oleh laki-laki, walaupun kadang-kadang kaum perempuan juga ikut serta. Panen dilakukan dengan manggunakan sadeuep (sabit) khusus untuk keumeukoh, dengan ujung sabit yang dibuat khusus untuk mengikat nibai, kumpulan batang-batang padi yang diikat menjadi satu dengan menggunakan batang padi itu sendiri. Setiap petak padi, yang luasnya bervariasi, dikerjakan oleh sekelompok orang yang terdiri dari beberapa orang. Biasanya mereka datang dari kampung-kampung lain. Sepanjang siang mereka bekerja, membabat padi petak demi petak, berdasarkan perintah pemberi kerja atau pemilik sawah.

Keumukoh

Malam hari biasanya mereka menginap di meunasah atau surau, karena tidak memungkinkan untuk pulang ke tempat asal mereka. Karena itu, biasanya meunasah-meunasah­ penuh dengan kelompok-kelompok ureung keumeukoh yang datang dari berbagai kampung lain dan tinggal di sana selama musim panen. Makan mereka ditanggung oleh pemberi kerja, jika masa kerjanya melewati jam makan. Untuk makan malam biasanya dibuat kesepakatan khusus dengan pemberi kerja.

Dulu upahnya tidak berupa uang kontan, tetapi berupa padi hasil panen itu sendiri. Untuk satu naleh sawah upahnya sekian naleh padi, yang akan diambil nanti di penghujung musim keumeukoh. Sekarang ini, biasanya upahnya berupa uang kontan, yang lebih gampang dibawa dan bisa langsung dibagi rata saat diterima.

Nibai-nibai yang baru dipotong diletakkan di atas pematang sawah ataupun diatas jeuendrang-tunggul batang padi, untuk dibiarkan beberapa lama sehingga menjadi lebih kering. Nibai-nibai ini akan dikumpulkan saat peuteungoh nibai, yaitu mengumpulkan nibai-nibai­ tersebut kesuatu tempat dimana padi akan dilepaskan dari tangkainya. Peutengoh nibai ini dilakukan oleh kaum perempuan, yang setelah selesai akan mendapat upah berupa nibai itu sendiri. Anak-anak juga ikut serta mengumpulkan nibai untuk diangkut oleh mereka yang lebih besar. Yang lainnya melakukan pileh pade – mengumpulkan untaian-untaian padi yang terlepas dari nibai. Sewaktu pulang mereka akan diberi hadiah beberapa buah nibai. Dulu, untuk setiap naleh sawah, upahnya biasanya satu bleuet – alat angkut nibai berupa buntalan – nibai sesanggup yang diangkat oleh mereka.

Nibai

Nibai-nibai yang dikumpulkan biasanya disusun rapi membentuk sebuah phui, tumpukan ­nibai­ yang disusun benbentuk bulatan dengan bekas potongan kearah luar. Atapnya dibentuk dari nibai-nibai­ itu juga, yang disusun kearah keluar, sehingga daun-daun padi membentuk atau yang mengalirkan air ke arah luar, sehingga bagian dalam phui tetap dalam keadaan kering. Alas phui biasanya dari tumpukan jerami. Phui ini bisa berdiri selama beberapa hari menunggu giliran untuk proses pengirikan padi, yang di Aceh dikenal dengan istilah ceuemeuelho.

Phui / Tumpukan padi

Dulu, ceuemeuelho masih dikerjakan oleh tenaga manusia, karena mesin perontok padi masih sedikit. Beberapa orang akan mengerjakan proses ceuemeuelho dengan upah padi dalam jumlah tertentu. Beberapa nibai akan ditumpuk menjadi satu dan dipijak-pijak sambil digulirkan di atas tikar on iboh sampai bulir padi terlepas dari tangkainya. Untuk penyeimbang badan biasanya dipakai dua batang tongkat yang terbuat dari pelepah rumbia. Proses ceuemeuelho ini biasanya dilakukan di malam hari di bawah cahaya lampu petromak sepanjang malam, sampai selesai. Bagi anak-anak, ini adalah kesempatan bermain sepuas-puasnya. Makanan berlimpah disediakan oleh pemberi kerja. Nasi gurih atau nasi lemak, kopi, teh, bandrek, pisang goreng, bu leukat – nasi ketan dengan berbagai perlengkapannya dan lain-lain. Di ujung tikar, tumpukan jerami menggunung, berisi bulir padi yang sudah lepas tetapi tersangkut dalam jerami. Beberapa orang perempuan sudah menunggu disini untuk melakukan seuemiteueng – mengambil sisa padi dari tumpukan jerami. Caranya sederhana, tumpukan jerami digoyang-goyang sampai bulir padinya berjatuhan. Jeraminya kemudian dipisahkan.

Ceuemeuelho

Sehabis ceuemeuelho, proses dilanjutkan dengan keuemeuerui, memisahkan bulir padi yang bernas dari semua kotoran, termasuk padi-hampa. Dulu proses ini dilakukan oleh kaum perempuan dengan menggunakan jiee – tampah yang terbuat dari anyaman bambu. Proses ini sangat tergantung dari kondisi cuaca, karena memerlukan angin yang kuat. Tumpukan padi diangkat dengan jiee, kemudian ditumpahkan pelan-pelan. Dengan bantuan angin, padi hampa dan kotoran akan tertiup angin dan memisah dari padi yang berisi, yang langsung jatuh ke tikar on iboh.

Keuemeuerui

Selesai semuanya, kemudian upah-upah dibayarkan. Upah keuemeuekoh, upah ceuemeuelho, upah seuemiteueng dan upah keuemurui. Sedekah dan zakat juga dikeluarkan di tempat. Setelah itu, diadakan sukat pade, menghitung pendapatan hasil panen musim ini. Satu naleh sawah menghasilkan sekian naleh padi, bersih. Padi yang sudah dimasukkan kedalam karung dan goni kemudian diangkut pulang untuk disimpan dalam krong, semacam lumbung padi tradisional Aceh. Rumah-rumah sekarang ini jarang yang mempunyai krong, jadi padinya ditumpuk begitu saja di dalam rumah. Kadang ada juga yang dikeluarkan dari karung goni dan dicurahkan di seuramoe rumah Aceh. Yang ingin praktis, padi langsung diantarkan ke pengilingan padi. Di sana padi ditimbang dan pemiliknya menerima bukti serah terima. Kapan saja pemilik padi memerlukan uang, padi akan dihargai menurut harga padi pada saat pemilik padi ingin minta uangnya. Semacam tabungan jadinya.

Keuemeuekoh adalah tumpuan harapan bagi kebanyakan petani Aceh. Banyak keinginan ditunda sampai musim keuemeuekoh tiba. Membayar utang, tunggu keuemeuekoh. Perbaiki rumah, beli barang-barang baru, tunggu keuemeuekoh. Mengadakan fasilitas umum di gampong-gampong juga dilaksanakan pada saat keuemeuekoh. Orang-orang gampong bergotong royong keuemeuekoh untuk mengumpulkan dana untuk mendirikan meunasah, membeli genset gampong dan lain-lain. Warga gampong yang tidak bisa ikut keuemeuekoh karena pekerjaannya, harus membayar iuran sesuai dengan jumlah upah yang diterima masing-masing warga yang ikut keuemeuekoh. Remaja-remaja bekerja ceuemeuelho untuk mengumpulkan dana untuk membeli bola sepak baru, atau membeli baju seragam tim voli. Anak-anak ikut mengumpulkan nibai untuk mendapatkan uang saku.

Peuteungoh Pade

Namun Saat ini, semua proses menjadi serba mesin dan serba cepat cepat dengan adanya mobil potong padi komplit serba otomatis mulai dari keuemeuekoh, ceuemeuelho, keuemeuerui, peuteungoh nibai menjadi satu sehingga masyarakat yang sebelumnya menaruh tumpuan harapan untuk bekerja sebagai jasa tenaga keuemeuekoh, ceuemeuelho, keuemeuerui, peuteungoh nibai kini kehilangan pekerjaan apabila prosesi memotong padi menggunakan mesin moderen.

Mungkin suatu saat nanti proses yang selama ini dijalankan akan sirna seiring kemajuan teknologi pertanian. Dulu, orang miskin mencari upah dengan bekerja pada pemilik sawah.

Sekarang orang-orang berduit turun kesawah dengan mesin-mesin yang menghasilkan uang dengan bekerja untuk para petani. Membajak sawah sudah menggunakan traktor. keuemeuekoh, ceuemeuelho, keuemeuerui, peuteungoh nibai kini menggunakan mesin. [Redaksi/Darirantau]

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan