Menyelamatkan Jiwa Saat Konflik hingga jadi Entrepreneur

“Hidup berawal dari mimpi, jadi siapa yang tidak punya mimpi, berarti tidak ada kejelasan mau di bawa kemana hidup ini, kemiskinan bukanlah warisan, akan tetapi kita sendirilah yang menentukan kaya atau miskin dan dalam semua usaha harus fokus, sungguh-sungguh di barengi dengan do’a dan restu dari orang tua”

-Kamaruddin Ahmad-

(Pengusaha Muda)

IMG_20141217_190836

Kamaruddin Ahmad (28 thn) Pengusaha Muda asal Gampong Cot Baroh

Cot Baroh merupakan sebuah Gampong atau Desa yang terletak di Kemukiman Aron Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie, merantau adalah kibiasaan masyarakat Pidie, kabarnya juga sama dengan masyarakat Bireuen. Masyarakat Pidie  dikaitkan pula dengan urang awak di Padang – Sumatera Barat, karena merantau selalu diasosiasikan dengan berdagang.  Alasan lain mengapa di indetikkan dengan bangsa Cina (dulu disebut Tionghoa) adalah karena mereka dikenal senang bermigrasi ke seluruh dunia dan akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi.

Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan persistensi, dan kegigihan bangsa Cina. Lalu, budaya Cina yang beragama Budha juga hampir serupa dengan budaya masyarakat Pidie yang beragama Hindu (dari India) sebelum datangnya Islam sehingga sekarang ada istilah masyarakat Pidie yang meurantau di sebut dengan ‘Cina Hitam’ (The Black Chinese).

Pada saat Konflik berkecambuk hingga Aceh damai, masih banyak masyarakat Pidie pada umumnya dan khusnya masyarakat Gampong Cot Baroh yang menjadi The Black Chinese untuk merantau sekaligus menyelamatkan jiwa pada saat konflik berkecambuk, saat ini masyarakat Gampong Cot Baroh tersebar di berbagai daerah seperti di Banda Aceh, Jakarta, Kalimantan dan Malyasia, beberapa dari mereka memilih menetap dan memperistrikan masyarakat setempat karena sudah sukses dengan entrepreneur.

Pada suatu pagi   tanpak seorang pemuda yang sedang menikmati secangkir kopi  sembari mengotak ngatik smarphonenya pada sebuah warung kopi di Gampong Cot Baroh. Sosok pemuda tersebut adalah Kamaruddin Ahmad (28 th) dengan senyum khasnya menyambut kedatangan redaksi, waktu kecil Kamaruuddin sering di panggil dengan sapaan si gam (laki-laki), Kamaruddin merupakan masyarakat Gampong Cot Baroh yang saat ini bisa dikatakan sukses dalam bidang entrepreneur.

Pagi itu cuaca begitu cerah menghiasi langit Gampong Cot Baroh, desiran angin di perbukitan menghempas jiwa yang terbelenggu, keadaan ini sungguh berbeda dengan keaadaan pada saat Aceh di landa Konflik di mana Gampong Cot Baroh begitu parahnya ketikan konflik yang mana sering terdengar letupan senjata api, Gampong Cot Baroh dicap sebagai wilayah hitam (black list) menyebabkan masyarakat tidak nyaman dalam beribadah dan mencari nafkah.

Kamaruddin setelah menamatkan Pendidikan di Kecamatan Glumpang Tiga pada tahun 2001 memutuskan untuk merantau ke Kota Banda Aceh dengan tujuan menyelamatkan jiwa sembari berjualan rokok asongan (rukok gantung) diseputaran Pasar Aceh dan Mesjid Raya Baiturrahman, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun sosok Kamaruddin terus berjuang untuk bertahan hidup tanpa merasa gengsi dengan pekerjaanya, karena bagi Kamaruddin mencintaai pekerjaan dan berdo’a adalah ruhnya usaha.

Setelah 3,5 tahun lamanya Kamaruddin berjualan di seputaran Pasar Aceh dan Mesjid Raya Baiturrahman dirasakan perlu adanya hijrah ke tempat lain dengan beberapa alasan di antaranya bencana alam gempa bumi dan tsunami Aceh tanggal 26 Desember 2004 meluluhlantakan Kota Banda Aceh dan Pesisir Aceh lainya yang menelan korban kurang lebih 200.000 jiwa, yang kini sudah mencapai satu dekade dari bencana tersebut tahun 2004.

Dengan sebab itu tanpa pikir panjang memutuskan untuk pindah lokasi jualan ke kawasan pasar Lambaro Aceh Besar di sana hanya bertahan satu tahun dan kemudian berhenti berjualan rokok asongan, tidak lama berselang tepatnya tahun 2007 Kamaruddin ditawarin bekerja jualan pakaian anak-anak dengan Syukri alias ceko panggilan keseharian (Syukri merupakan warga Gampong Cot Baroh yang sudah lebih dulu menancap kuku di pasar lambaro).

Berkat ketukanan dan kegigihan dalam bekerja semakin hari Syukri semakin percaya dengan kamaruddin, bagi kamaruddin kemana pun dan dimana pun kita berada selama kita jujur InsyaAllah kita tidak akan lapar, jujur adalah mata uang yang berlaku dimana saja, tanpa terasa kurang lebih selama 2,5 tahun kamaruddin bekerja di tempat Syukri merasa sudah cukup berpengelaman untuk membuka usaha sendiri bermodalkan uang gaji di tempat Syukri dan ditambahkan dengan sedikit tabungan pada saat jualan rokok asongan, pertengan bulan 9 tahun 2009 diawali dengan bismillahirrahmanirrahim Kamaruddin meberanikan diri untuk memulai usaha sendiri yaitu julan pakaian anak-anak.

Jangan takut memcoba dalam hal apa pun karena sebelum memcoba kita tidak pernah tau berhasil atau tidak dalam suatu usaha begitu kilah Kamaruddin, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS.13:11)

Dengan ukuran kios 2,5 x 180 cm yang bisa dibilang kecil untuk jenis usaha jualan pakaian anak-anak. Tapi untuk tahap awal memulia usaha sudah memadai segitu, kios biasa rame pembeli pada saat bulan puasa hingga menjelang lebaran, pada awalnya Kamaruddin sendiri yang menjaga namun semakin hari semakin ramai pembeli dengan ukuran kios yang begitu sempit, delapan bulan kemudian Kamaruddin membuka kios satu lagi dan digabungkan dengan kios yang sudah ada lebih dulu, untuk karyawan Kamaruddin mengambilnya dari Gampong Cot Baroh dan Gampong Tetangga yaitu Gampong Cot Tunong dan Gampong Krueng Jangko. Dalam pemilihan karyawan kamaruddin begitu selektif jujur, ulet, cekatan dan diutamakan dari keluarga yang keadaan ekonominya kurang beruntung, bahkan juga ada anak yatim, bisa membantu orang lain suatu kesenangan batin tersendiri bagi kamaruddin yang hobinya membaca buku-buku orang sukses dan menginspirasinya dalam berusaha.

IMG_20141220_150538

Syakban  salah satu karyawan Mega Kids

Hidup berawal dari mimpi, jadi siapa yang tidak punya mimpi bearti tidak ada kejelasan mau di bawak kemana hidup ini, kemiskinan bukanlah warisan akan tetapi kita sendirlah yang menentukan kaya atau miskin dan dalam semua usaha harus fokus, sungguh-sungguh di barengi dengan doa dan restu dari orang tua begitulah nasehat yang sering diutarakan oleh kamaruddin dalam setiap ada kesempatan diskusi tentang dunia usaha.

Awal bulan Oktobe tahun 2011 kamaruddin melebarkan usahanya dengan membuka toko dengan nama Mega Kids yang menjual pakaian anak-anak yang beralamat di jalan kantor Camat no.15 Pasar Lambaro Aceh Aceh Besar.

IMG_20141220_150513

Mega Kids Jl Knator Camat No 15 Lambaro

Dengan berkembangnya usaha dari anak pasangan Ahmad Yusuf dengan Nurhayati membawa berkah bagi masryarakat gampong, setidaknya dapat menampung beberap orang karyawan, dengan demikian pada saat ini kamaruddin telah memeliki satu toko dan dua kios di seputaran pasar lambaro, berkat kerja kerasnya Alhamdulillah pada saat ini telah berasil mendirikan sebuah rumah untuk kedua orang tuanya di Gampong Cot Tunong dan membantu sekolah adinya Sri Wahyuni (17 th ) dengan dibelikan sepeda motor, begitu juga dengan Kamaruddin bila berpegian kemanapun sebuah honda jazz berwarna silver selalu setia menemaninya dan itu semua hanya titipan Allah kepada saya dan yang terpenting bagaimana saya menjaga titipan Allah tersebut, syukur Alhamduliilah saya bisa membantu sanak saudara dan masyarakat di Gampog terang penyuka batu giok tersebut.

Meskipun pada saat ini keadaan ekonominya bisa dikatankan mapan seusia dia namun sosok Kamaruddin tetap rendah hati tidak sombong dan ringan tangan dalam membantu orang yang membutuhkan, kamaruddin yang sekarang sama dengan kamaruddin yang dulu yang berubah hanya sekarang lebih ganteng sedikit lagi ketusnya sambil ketawa.

Melalui kisah di atas semoga bisa menginspirasi pemuda-pemuda gampong untuk terus berusaha dan berkerja keras dan jangan pernah mengeluh dengan serba keterbatasan yang kita miliki pada saat ini, akan tetapi jadikannlah kekurangan dan keterbatasan tersebut sebagai cambuk untuk terus men kesukuai kesuksesan. Buktikan kalau kita bisa, Kamaruddin Ahmad telah membuktikannya, seperti pepatah Islam mengatakan “Man jadda Wa Jada” yang artinya “Barang Siapa Bersungguh-Sungguh Mendapatlah Ia”.(dhl/sr)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan