Aceh Berpotensi Jadi Sentra Kakao Indonesia

www.gampongcotbaroh.desa.id | Tapak Tuan, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan Aceh berpotensi menjadi sentra kakao terbesar di Indonesia, karena Aceh memiliki areal perkebunan komoditas tersebut terluas di sumatera yakni mencapai 73.000 hektare yang melibatkan 220 ribu petani.

????????????????????????

“Aceh sangat potensial untuk dikembangkan kakao secara lebih besar lagi, sehingga menjadi salah satu daerah lumbung kakao nasional,” katanya dalam sambutannya yang dibacakan Bupati Aceh Selatan T Sama Indra saat membuka acara pertemuan Forum Kakao Aceh di Tapaktuan, Minggu (30/11/2014).

Dalam acara yang dihadiri Kepala SKPK terkait dan pegiat kakao se Aceh ini, Gubernur menyampaikan, atas nama Pemerintah Aceh pihaknya berharap pertemuan forum kakao itu dapat berlangsung dengan baik dan lancar, sehingga bisa terus memperkuat perkebunan kakao sebagai salah satu komoditi andalan Aceh ke depannya.

Hal itu, kata Gubernur, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh tahun 2012-2017, dimana salah satu program prioritas Pemerintah Aceh dalam beberapa tahun ke depan adalah pembangunan sektor pertanian untuk menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan nasional.

“Impian ini bukanlah terlalu berlebihan, sebab potensi pertanian kita cukup menjanjikan. Buktinya sumbangan sektor pertanian untuk PDRB Aceh di atas 40 persen,” tegasnya.

Komoditi yang dapat diandalkan di Aceh selama ini, sebut Zaini, sangat beragam yakni salah satunya adalah kakao.

Meskipun tingkat produksi masih berada di urutan ketiga di sumatera, karena masih banyak lahan yang belum berproduksi, namun kata Zaini, peluang menjadikan Aceh sebagai basis produksi kakao di wilayah barat Indonesia itu sangatlah terbuka atau berpeluang besar sebab masih ada sekitar 120.000 hektar lahan tidur yang potensial belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Potensi inilah yang kita harapkan bisa dikembangkan, sehingga Aceh bisa menjadi lumbung kakao nasional, selain wilayah sulawesi yang sampai sekarang merupakan penghasil kakao terbesar di Indonesia,” ucapnya.

 Untuk pengembangan perkebunan kakao di Aceh, sambung Zaini, ada beberapa langkah yang telah dan akan terus lakukan, yakni selain menjalin kerjasama dengan pihak LSM lokal maupun NGO internasional juga melakukan program penguatan dan pemberdayaan petani kakao secara maksimal di lapangan dibawah binaan instansi terkait.

 “Kita berharap produksi kakao Aceh bisa menjadi salah satu komoditi andalan untuk menunjang suksesnya masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI), dimana Aceh diproyeksikan sebagai koridor ekonomi sumatera. Untuk mencapai harapan ini, langkah-langkah intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan kakao harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

 Untuk menyukseskan program ini, menurut Zaini Abdullah, Pemerintah Aceh membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari akademisi, lembaga donor, dunia usaha, Perbankan dan yang utama adalah dari petani kakao itu sendiri.

 Termasuk juga peran Forum Kakao Aceh, sebagai wadah bagi para petani dan pengusaha kakao di daerah ini untuk mencurahkan ide atau gagasan cemerlang dalam kaitan pengembangan kakao ke depannya serta untuk menggalang kebersamaan dan kekompakan sesama para anggotanya.

 Lebih lanjut, Gubernur mengatakan, pengembangan kakao di Aceh harus didukung secara optimal oleh semua pihak mengingat komoditi itu sangat banyak dibutuhkan dunia saat ini, sementara pasokannya relatif kecil, sehingga tidak heran jika harganya cenderung stabil selama ini.

“Sebagai informasi kepada kita semua, rata-rata kebutuhan kakao dunia mencapai tiga juta ton per tahun, sedangkan sumbangan Indonesia baru 15 persen dari kebutuhan kakao dunia tersebut,” ujarnya.

 Zaini mengatakan, produsen kakao terbesar di dunia masih didominasi negara Pantai Gading, namun akibat konflik yang berkepanjangan di negara Afrika itu membuat pasokan kakao kerap tersendat, sehingga importir kerap bergantung kepada produksi Indonesia.

Yang menariknya, sambung Gubernur, saat ini 70 persen kakao Indonesia diolah di dalam negeri, sehingga kondisi ini tentu menguntungkan petani, karena harga jualnya relatif stabil.

Oleh sebab itu, kata Zaini, sudah menjadi tugas petani dalam negeri untuk meningkatkan produktifitas kakao, mengingat kebutuhan kakao di dalam negeri saja mencapai 400.000 hingga 600.000 ton per harinya.

“Untuk itu langkah-langkah peningkatan harus kita rancang dengan baik salah satunya dengan melakukan tindakan pencegahan terhadap berbagai potensi yang mengganggu produksi. Dalam hal ini ancaman hama penyakit perlu menjadi perhatian kita semua karena masalah ini kerap membuat petani kita kehilangan semangat,” imbuhnya.

Menyangkut persoalan itu, kajian dan upaya penanggulangan hama harus ditingkatkan dan disosialisasikan sehingga petani bisa melakukan tindakan pencegahan atau pengobatan manakala serangan hama mulai datang.

Karena itu, kata Gubernur, pihaknya sangat mendukung acara pertemuan forum kakao itu untuk memfokuskan diri pada upaya penanggulangan hama tersebut, sehingga dengan demikian petani kakao bisa optimis karena mereka memahami cara terbaik untuk melindungi tanamannya dari serangan hama.(AntaraAceh)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan