Opening Internet Access for Villages

“Dasar Ngota (orang kota),” canda Pri Anton Subardi, penggiat Desa Pangebatan, Banyumas. Memutar balik ungkapan “wong ndeso” yang kerap digunakan untuk mengejek orang Desa berkesan udik. Semangat kebanggaan membangun Desa ini melawan persepsi bahwa masyarakat Desa kalah maju dibanding orang Kota.

Festival Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi (DesTIKa) kembali digelar pada 26-27 September 2014 di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukahaji, Majalengka, Jawa Barat. Festival DesTIKa pertama berlangsung pada Agustus 2013 di Desa Melung, Banyumas, Jawa Tengah. Kali ini peserta datang dari beragam desa di 18 Propinsi, mulai dari Gampong Cot Baroh, Kabupaten Pidie, Aceh hingga Kampung Nurawi Miosindi, Kabupaten Yapen, Papua.

“Desa-desa perlu difasilitasi untuk menghasilkan sesuatu, menghasilkan rupiah. Timbullah kebijakan untuk memberikan fasilitasi kepada Desa. Perangkat komputer dan modem mulai ada pada 2010 bagi 323 Desa. Untuk mempercepat komunikasi dalam roda pemerintahan,” ujar Bupati Majalengka, Sutrisno.

Festival yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) ini bekerja sama dengan Gerakan Desa Membangun (GDM) dan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) Majalengka dengan dukungan PNPM Mandiri. Gelaran ini membahas sistem informasi pembangunan, sistem informasi Desa dan optimasi web Desa, open source (perangkat lunak sumber terbuka) untuk mendukung TIK perdesaan, branding dan marketing produk Desa, pemberdayaan 2.0, rencana aksi pelaksanaan Undang Undang Desa, dan berbagai pemanfaatan teknologi informasi perdesaan.

Sebagai ajang teknologi akbar penggiat Desa, Festival DesTIKa memberikan apresiasi penghargaan DesTIKa Desa.id. Penghargaan hasil kerjasama Kemkominfo dan Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) ini diberikan kepada enam pemerintah daerah yang berhasil mendorong pemanfaatan TIK di kawasan perdesaan.

Enam pemerintah daerah ini dinilai berhasil dalam mengoptimalkan penggunaan domain Desa.id untuk memajukan Desa lewat website. Hadiah diberikan kepada perwakilan Gampong Cot Baroh, Kabupaten Pidie, Aceh; Desa Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat; Desa Bakbakan, Kabupaten Gianyar, Bali, Desa Batu Meranti, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan; Desa Lakawali, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan; Kampung Nurawi Miosindi, Kabupaten Yapen, Papua.

Penghargaan Desa.id diberikan juga kepada Dishubkominfo Kab. Majalengka – Jawa Barat, Dishubkominfo Kab. Tanahbumbu – Kalimantan Selatan, Dishubkominfo Provinsi Jawa Barat, dan Dishubkominfo Provinsi Kalimantan Selatan.

Pengukuhan Relawan TIK juga dilakukan dengan penyematan pin oleh Bupati Majalengka, Dirjen Aptika, dan Direktur Pemberdayaan Informatika. Para Relawan TIK bersama lingkar belajar Desa Membangun telah bergerak memanfaatkan TIK untuk mengangkat potensi Desa. Dalam festival ini, para penggiat Desa ini berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintah dan keterbukaan informasi publik Desa. Relawan TIK siap mendampingi pemanfaat teknologi informasi dalam pembangunan Desa.

“Ada sekitar 6.000 Relawan TIK yang siap mendampingi di seluruh Indonesia,” ujar Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo, Septiana Tangkary.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono menjelaskan program Indonesia Melek TIK (peningkatan literasi TIK), Indonesia Informatif (sadar dan berbagi informasi), dan Indonesia Broadband (seluruh wilayah tersambung jaringan Broadband Palapa Ring Project) siap mendukung Desa memanfaatkan TIK. Pemanfaatan teknologi informasi ini sudah memasuki ranah hak masyarakat mendapatkan informasi dan kewajibannya.

“Masyarakat memperoleh hak kekayaan dan kewajiban, bisa memanfaatkan kualitas sistem, kualitas hidup, serta melakukan kontrol penggunaan teknologi informasi ke arah yang lebih baik,” ujar Bambang.

Bangun Jaringan Internet Desa Mandiri
Kendati membahas website, perwakilan Desa mengeluhkan infrastruktur jaringan internet yang belum merata. Pakar teknologi informasi dan komunikasi, Onno W. Purbo menawarkan solusi pada Seminar Umum Open Source untuk Mendukung TIK Perdesaan 2.0. Untuk Desa yang tidak memiliki sinyal ponsel, jaringan internet Desa dibuat dengan menitip alat pemancar dari Desa terdekat yang memiliki sinyal operator internet. Rangkaian modem dan router dipasang di rumah warga Desa tetangga untuk menjaga keamanan alat.

Program Radio Mobile Wireless untuk merancang radio bisa diunduh gratis. Investasi alat yang digunakan untuk membuka akses internet, pemancar WiFi, atau TV serta radio Desa berkisar di bawah Rp2 juta.

“Bikin server sendiri di masing-masing Desa atau antardesa! Masing-masing Desa bikin TV di internet. Nggak perlu izin kan? Bikin radio dan web di internet. Tapi, internet Desa itu lokal. Bisa nggak pakai Internet, tapi intranet,” usul Onno.

Informasi teknis pembuatan jaringan dibahas lebih detail dalam kelas khusus Open Source. Kelas ini membahas teknis coding atau pemprograman data. Onno pun memberikan ide untuk Desa menghasilkan konten lokal yang khas. Masyarakat Desa bisa memiliki pilihan konten di luar media massa nasional.

“Akses internet bisa kita bikin sendiri. Tinggal gimana caranya supaya orang pintar hingga bisa bikin sendiri. Harganya (pengadaan internet) kan seharga handphone biasa. Tidak perlu uang sampai m-an (miliaran). Kuncinya bukan di duit, tapi di ilmu,” cetus Onno dalam wawancara terpisah.

Transparansi Lewat Website 
Semua berawal dari gagasan Domain Tingkat Dua (DTD) baru “Desa.id oleh Kepala Desa dalam dalam acara Sarasehan #Juguran Blogger Banyumas 2012. Usulan domain khusus Desa sudah pernah diutarakan oleh RPDN pada April 2012. Pembahasan berlanjut oleh penggiat Gerakan Desa Membangun (GDM) hingga usulan Desa.id diterima sebagai DTD dalam rapat Forum Nama Domain Indonesia. Pada 1 Mei 2013, domain Desa.id resmi diluncurkan. Sosialisasi Desa.id ini dibantu dengan dukungan dari PNPM Mandiri Banyumas pada Rapat Koordinasi PNPM Banyumas.

Program 1000 Web Desa Gratis pun menggebrak pada penutupan Festival DesTIKa pertama di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. PANDI menggratiskan penggunaan domain Desa.id selama satu tahun. Penikmat layanan gratis ini pun harus berkomitmen untuk aktif mengisi konten website. Hingga pada Festival DesTIKa kedua, tercatat ada sekitar 1.300 website Desa sudah aktif. Mulai 1 Oktober 2014, layanan ini sudah mulai berbayar untuk pendaftaran dan biaya hosting (tempat di internet untuk menyimpan data website).

GDM memfasilitasi pembuatan hingga aktivasi website Desa. Syaratnya mengisi formulir online dengan kelengkapan fotokopi KTP dan surat permohonan pembuatan website Desa.id dari Kepala Desa atau Sekretaris Desa. Peserta yang hadir di Festival DesTIKa mendapat keistimewaan “oleh-oleh” website Desa yang dibuatkan langsung.

Pri Anton Subardi, penggiat Desa Pangebatan, Banyumas yang aktif dalam GDM membagi pengalamannya dalam kelas Optimalisasi Web Desa. Sebelum sampai ke pendaftaran website, pemahaman tentang pentingnya website Desa sudah harus dimiliki masyarakat. Peserta mengeluhkan pemerintah Desanya yang belum terbuka untuk membuat website. Berjuang untuk perubahan memang tidak mudah.

Anton menjelaskan perlu pendekatan kepada pihak yang memiliki minat pada TIK. Misalnya,  pemuda Desa lewat Karang Taruna. Memakai prinsip “Hidayah”, GDM menilai kebutuhan Desa terhadap website harus dari kesadaran sendiri. Jika belum sadar, penggiat Desa perlu mendekati Pemerintah Desa. Ini juga penting agar Pemdes aktif menceritakan Desa dalam website.

“Semua pihak yang peduli saling mengambil peran untuk membangun Desa,” ujar Anton yang juga aktif di Gedhe Foundation, LSM pemberdayaan masyarakat.

Peserta mengungkapkan kekhawatiran terhadap kemampuan masyarakat Desa dalam mengelola teknologi informasi. Kendati mengalami keterbatasan, penggiat Desa bisa menanggulangi tantangan itu dengan ikut aktif dalam lingkaran belajar dalam dan antardesa, seperti GDM. Belajar bersama memercikkan semangat orang Desa tidak kalah maju dibanding orang Kota.

“Prinsip Dakwah! Jika satu Desa atau satu orang sudah mampu, maka kewajibannya menyebarkan kepada Desa atau orang lain,” cetus Anton yang juga Dosen Politeknik Pratama Purwokerto.

Peran website sebagai media pun dibahas dalam Seminar dan Stadium General Sistem Informasi untuk Keterbukaan Informasi Pembangunan. Website dapat menyampaikan potensi dan sumber daya alam kepada masyarakat Desa hingga dunia. Keberadaan website Desa dan email bisa menggerakkan akses sumber daya Desa untuk bisa diminati daerah lain. Jalur komunikasi pun meluas. Langkah ini bisa membuka akses perdagangan antardesa dan pengembangan kawasan perdesaan sesuai amanat Undang Undang Desa.

“Kebutuhan pemerintah daerah menyiapkan sistem informasi Desa, jaringan, dan SDM-nya. Desa yang mau maju ada kebutuhan mencari informasi,” ujar Ketua Umum PANDI, Andi Budimansyah.

Website Desa juga memudahkan masyarakat untuk mengakses data publik. Praktik baik inovasi Desa bisa dilihat dari contoh aplikasi interaksi dengan kepala Desa. Dengan membuka akses data ke publik, website dapat mengajak masyarakat untuk aktif mengoreksi data Desa.

“Salah satu asas dalam pembuatan UU Desa adalah partisipasi. Kepala Desa harus melibatkan partisipasi publik. Peraturan Desa harus dibicarakan di Badan Musyawarah Desa. Bikin peraturan itu perlu koordinasi dengan masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Bambang Heru Tjahjono.

Selain koreksi data, Kepala Dusun Karangnangka, Kodirin juga menekankan peran website Desa untuk integrasi data. Kodirin menunjukkan data primer lintas sektor berbeda. Misalnya, Kode Desa versi Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Kementerian Dalam Negeri berbeda.

Integrasi data Desa bisa dilakukan dengan mendokumentasikan perubahan dalam peristiwa kependudukan yang mengubah status kependudukan, seperti kepindahan dan kemiskinan. Data Desa ini dapat ditampilkan dalam website Desa dengan bentuk visualisasi statistik Desa.

“Kita bisa mengubah kebijakan dengan mempunyai database yang valid. Bisa sandingkan dengan BPS. Yang tahu miskin atau tidak kan warga Desa sendiri,” cetus Kodirin.

Sumber : www.pnpm-support.org

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan