Meminimalkan Efek Negatif dari Google

GoogleYahoo

Kemajuan Teknologi Informasi dewasa ini disamping memberi manfaat positif bagi manusia juga memberikan efek negatif yang luar biasa. Salah satunya yaitu dari mesin pencari bernama Google yang dikenal menyediakan informasi tampa batas ini dinilai juga memberi efek negatif.

Sisi positif keberadaan google bisa mempersingkat waktu kita dalam pencarian informasi. Namun, dampak negatif yang timbul juga ada seperti bercampurnya informasi yang positif dan negatif. Namun, point penting disini merupakan hal positif dari kehadiran internet dan Google adalah terbukanya akses ilmu pengetahuan.

Produk utama google dapat memudahkan pengguna dalam menemukan informasi yang dibutuhkan sehingga dapat terbukanya akses pendidikan dan ilmu pengetahuan yang nyaris tampa batas, misal guru di Aceh bisa mengajar di Amerika dan sebaliknya, Orang-orang Aceh di luar negeri bisa mengetahui informasi di gampongya lewat portal gampong.

Namun sangat disayangkan yang terkesan bagi sebagian pengguna, konten-konten internet di google sebagian besar bermuatan informasi negatif sehingga banyak yang memanfaatkan untuk mencari konten negatif.

Ini bisa dimaklumi karena Google terikat dengan aturan di negara si pencipta Google, Amerika Serikat yang kulturnya beda dengan kita di timur. Oleh sebab itu, informasi yang disedikan, bisa negatif tapi positif menerut mereka.

Google itu ibarat perpusataakan raksasa yang di dalamnya memuat buku-buku dengan berbagai macam kategori. Kita sebagai pembaca dan pencari buku mesti belajar cara mencari buku yang tepat dan sesuai dengan kebetuhan kita karena cari mencari buku atau informasi di google ini punya cara tersendiri. Walaupun google punya fitur pencarian aman (safe search) tapi hasilnya belum maksimal, standar yang mereka terapkan dalam blokir konten negatif belum maksimal. Artinya perusahaan sebesar google saja belum mampu antisipasi konten negatif di internet apalagi pemerintah.

Solusi untuk membendung efek negatif google yang pertama adalah ilmu, belajar ilmunya dulu sebelum berselancar di internet, pengguna perlu menjaga prinsip kehati-hatian dalam beselancar di internet, jangan asal klik. Belajar resiko mengakses konten negatif, selain merusak jaringan otak juga dapat merusak perangkat komputer atau ponsel pinter karena asal klik maka link yang dituju dapat menyebarkan virus sehingga beresiko menghilangkan data-data dalam perangkat yang kita gunakan.

Yang kedua jangan hanya mengandalkan google untuk mencari informasi tapi kunjungi juga situs internet rujukan lain yang terpecaya dengan cara bertanya pada pengguna internet positif. Juga bisa menggunakan mesin pencari buatan kita sendiri seperti yang tengah di kembangkan oleh teman-teman Komunitas Masyarakat Informasi Teknologi (MIT ACEH).

Jangan sampai bergantung 100% pada google, kata guru-guru kita juga bergantung kan hanya kepada Allah SWT jangan selain-Nya seolah-olah kita tidak bisa hidup tampa google. Saat ini kita berada pada zaman informasi yang berlebihan (overload Information), terlalu banyak informasi yang tidak penting yang menarik perhatian pengguna sehingga melalaikan dalam mencari informasi yang menjadi tujuan utamanya.

Bayangkan jika kita punya apalikasi mesin pencari versi Aceh dengan modal ilmu (konten) dari ribuan ulama, guru, ilmuan, akademisi tentu akan banyak ilmu yang di dapat dipublikasikan di internet.

Jika mereka terhubung dengan internet, misalnya dengan cara memeliki web pribadi maka isi tulisan atau konten multimedia (foto, rekaman video) yang mereka publikasikan ke dalam web pribadi akan mudah di indeks oleh aplikasi mesin pencari dan memudahkan pengguna internet belajar dari web pribadi mereka.

Sehingga kita berharap kesenjangan pendidikan dapat diminilisir, pengguna internet di Aceh bisa belajar dari seluruh web pribadi orang- orang Aceh. Konten berbasis lokal saat ini sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus konten-konten luar yang tidak sesuai dengan kultur kita di Aceh.

Tidak mesti dengan adanya website pribadi, sistem pemerintahan di Aceh terdiri dari Gampong, Mukim Sagoe dan Nanggroe, untuk saat ini kita di Aceh memeliki 755 Mukim, dan 6.423 Gampong dan jumlah Meunasah dan Mesjid yang tidak terhitung jumlahnya coba anda bayangkan jika setiap Gampong, Mukim, Meunasah, Mesjid punya portal website khusus berapa konten berbasis lokal yang akan lahir ?

Oleh sebab itu, semua pihak yang peduli terhadap masa depan generasi muda Aceh, mari kita berjuang membendung sisi negatif dari internet dengan cara yang berbeda-beda, salah satunya memanfaatkan sisi positif dari internet untuk membangun gampong lewat portal website mulai dari gampong anda sendiri, siapa mau ikut berjuang bersama-sama silahkan, tidak juga tidak apa-apa, tampa memita, terus bekarya dan siap bekerjasama dengan siapapun selama memeliki tujuan positif dan dari sumber yang positif pula. [SR]

* Tulisan ini telah diubah dari bentuk aslinya, tulisan ini dikutip dari majalah Suara Darussalam |Menuju Kebangkitan Aceh |www.suaradarussalah.com | Edisi V tahun 2 | 2014 | Teuku Farhan S.Kom ingin Minimalkan Efek Negatif Google.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan