Mengenal Hama dan Penyakit pada Tanaman Kakao

Usaha budidaya tanaman kakao memang banyak sekali mengenal berbagai jenis hama dan penyakit. Hama dan penyakit inilah yang sering kali menyebabkan tujuan budidaya tidak tercapai secara optimal. Oleh karena itulah, pengenalan berbagai jenis hama dan penyakit beserta siklus hidup dan cara pengendaliannya mutlak diperlukan untuk dapat menekan kerugian yang ditimbulkan dari serangan organisme-organisme pengganggu tanaman ini.

Di antara berbagai jenis hama tersebut, yang paling sering menyerang adalah hama penggerek batang kakao (Zeuzera coffear), penggerek buah kakao (Conophomorpha cramerella), penghisap buah kakao (Helopeltis antonii), kutu putih (Planococus citri), dan ulat kantong (Clania sp. dan Mahasena sp.)

Hama penggerek batang kakao (Zeuzera coffear)

Penggerek batang kakao (Zeuzera coffeae) adalah salah satu hama penting bagi tanaman kakao yang dapat merusak kualitas maupun kuantitas produksi tanaman. Penggerek batang kakao merupakan serangga dari family cossidae dan ordo lepidoptera. Fase penyerangan hama ini sebetulnya terjadi saat serangga masih berada dalam fase ulat.

Ulat zeuzera dapat menggerek cabang bahkan batang pokok tanaman sehingga menyebabkan tanaman mudah patah atau pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Jika ulat zeuzera sudah keluar pertumbuhan batang yang digerek biasanya kembaku normal. Namun pada serangan yang lebih berat, serangan hama ini dapat mengakibatkan kematian bagi tanaman. Serangan hama ulat penggerek batang dapat diidentifikasi melalui adanya liang gerekan pada batang disertai dengan adanya kotoran berbentuk silindrik dan berwarna merah kehitam-hitaman yang keluar dari liang gerekan.

Hama Penggerek Buah Kakao (Conophomorpha Cramerella)

Penggerek buah kakao (Conophomorpha cramerella) adalah hama penting yang paling sering menyerang tanaman kakao Indonesia. Hama ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil tanaman yang dibudidayakan dengan kerugian mencapai hingga 85%. Larva penggerek buah kakao yang juga dapat menginang pada tanaman rambutan ini, menggerek buah dan menyebabkan daging buah membusuk. Setelah kemudian ditinggalkan larva, pertumbuhan buah dan biji yang telah terserang akan menjadi terganggu. Biji akan saling menempel satu sama lain karena plasenta buah habis dimakan larva. Serangan penggerek buah kakao juga menyebabkan biji menjadi berdempetan dan kadar lemak biji menjadi turun hingga 4 sd 5 %. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa, kadar lemak merupakan salah satu komponen yang ditinjau dari penentuan mutu biji kakao.

Hama penghisap buah kakao (Helopeltis antonii)

Penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) adalah hama penting bagi usaha budidaya tanaman kakao yang dapat menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian tanaman seperti buah, daun muda, hingga kuncup buah. Hama yang termasuk ke dalam family miridae dan ordo hemiptera ini menyerang dengan cara menghisap bagian-bagian tanaman tadi menggunakan mulutnya. Bekas hisapan pada bagian tanaman tersebut biasanya akan meninggalkan bekas berupa bercak-bercak hitam. Bercak tersebut timbul akibat cairan ludah yang dikeluarkan serangga ini ketika akan menghisap. Serangga penghisap buah ini dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar jika terjadi infeksi atau menjadi vektor beberapa jamur penyebab penyakit tanaman seperti jamur Fusarium solani, Aspergilus sp., Glomella cingulata, Botryodiploida theobromae, dan Penicillium janthinellum.

Hama kutu putih (Planococus citri)

Kutu putih (Planococus citri) adalah kutu yang dapat menjadi hama dan sekaligus juga dapat menjadi alternatif pengendalian hama lainnya seperti penggerek buah kakao dan penghisap buah kakao. Kutu yang temasuk ke dalam family pseudococeae dan ordo homoptera ini menjadi hama jika menyerang bunga, calon buah, tunas, dan daun-daun muda tanaman kakao. Sedangkan jika menempel pada buah, kutu putih justru dapat mengundang semut hitam yang merupakan predator beberapa hama.

Hama ulat kantong (clania sp. dan mahasena sp)

Ulat kantong (Clania sp. dan Mahasena sp.) adalah hama yang biasa menyerang daun-daun kakao hingga menyebabkan tanaman menjadi gundul. Ulat ini juga dapat menyerang kulit kayu cabang yang masih muda. Jika daun-daun pada tanaman telah gundul karena habis dimakan, serangan ulat kantong dapat beralih ke tunas-tunas baru yang tumbuh, sehingga dapat menyebabkan kematian pucuk.

Sedangkan beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman kakao adalah penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh Phythoptora palmivora, penyakit kanker batang tanaman kakao Phythoptora palmivora, penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) tanaman kakao yang disebabkan oleh infeksi cendawan Oncobasidium theobromae, dan penyakit jamur akar tanaman kakao yang disebabkan oleh cendawan Rigidoporus microporus, Ganoderma pseudoforeum, dan Fomes lamaoensis

Penyajit Busuk Buah Kakao

Penyakit busuk buah kakao adalah salah satu penyakit penting yang sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Phythoptora palmivora pada buah. Cendawan Phythoptora palmivora sebenarnya juga dapat menginfeksi pada bagian tanaman kakao lainnya seperti batang, daun, tunas, bahkan bunga. Kendatipun demikian, dampak negatif serangan pada bagian tanaman lainnya tersebut tidak sebesar jika cendawan ini menginfeksi buah.

Penyakit busuk buahkakao sering menyerang tanaman yang memiliki sistem kekebalan yang rentan serta ditunjang oleh keberadaan kebun yang lembab dan gelap. Gejala serangan penyakit busuk buah adalah timbulnya bercak-bercak hitam pada bagian kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah jika tidak segera dikendalikan.

Penyakit ini dapat menyerang semua fase pertumbuhan buah, mulai dari buah pentil hingga buah dalam fase kemasakan. Buah yang terserang penyakit busuk buah akan tampak hitam arang dan jika disentuh akan terasa basah membusuk. Penyakit ini dapat menyebar dari satu buah yang terinfeksi ke buah lainnya melalui beberapa media seperti sentuhan langsung antarbuah, percikan air, dibawa oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran busuk buah akan semakin cepat jika kondisi kebun terlalu lembab karena cendawan Phythoptora palmivora dapat tumbuh subur pada daerah yang lembab.

Penyakit busuk buahkakao  dapat dicegah agar tidak menyerang tanaman kakao dikebun melalui penggunaan klon tahan busuk buah seperti DRC 16, SCA 6, SCA 12, ISC 6, dan hibridanya, pemupukan yang berimbang, sanitasi kebun yang dilakukan secara berkala, pemangkasan pohon penaung, pemangkasan pohon kakao, dan panen sesering mungkin. Sedangkan jika  penyakit busuk buah sudah menyerang, tindakan pengendalian yag dapat dilakukan antara lain dengan pemangkasan untuk meminimalisasi kelembaban kebun, sanitasi dan pemusnahan buah yang terserang, dan penggunaan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz dengan interval 2 minggu sekali.

Penyakit Kanker Batang Tanaman Kakao

Penyakit kanker batang adalah salah satu penyakit penting bagi tanaman kakao yang disebabkan oleh infeksi cendawan Phythotora palmivora pada batang dan cabang tanaman kakao. Cendawan Phytoptora palmivora yang juga penyebab penyakit busuk buah tanaman kakao ini sering menyerang kebun kakao yang lembab dan gelap.

Penyakit kanker batang tanaman kakao dapat dikenali melalui gejala-gejala yang ditimbulkan pada batang yang terserang. Batang tanaman kakao yang terserang penyakit kanker batangmemiliki bercak-cercak hitam. Bercak hitam tersebut nampak seperti basah dan membusuk. Jika tidak dikendalikan, bercak hitam akan terus meluas dan mengakibatkan terhambatnya transportasi hara dan fotosintat di dalam tanaman. Bercak hitam membusuk ditandai dengan adanya cairan merah berkarat dengan kulit kayu disekitar bagian yang membusuk berwarna coklat kemerah-merahan.

Penyakit kanker batang kakao dapat menyebar melalui beberapa media seperti sentuhan langsung dengan buah yang terserang busuk buah, percikan air, disebarkan oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran kanker batang berbanding lurus dengan penyebaran  Penyakit busuk buah dan akan semakin cepat jika musim hujan dan atau jika kondisi kebun terlalu lembab. Untuk membatasi penyebaran, kondisi kelembaban kebun harus tetap dijaga agaar tidak terlalu lembab dan gelap.

Penyakit kanker batang kakao dapat dikendalikan dengan mengupas kulit batang yang terserang dan membusuk hingga batas yang sehat, kemudian membalurkan air perasan kunyit pada bagian yang telah dikupas tersebut. Air perasan kunyit juga dapat disubstitusi dengan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz. Jika serangan kanker batang sudah sangat akut, tanaman harus dibongkar dan bagian yang terserang harus dimusnahkan dengan cara ditimbun atau dibakar.

Penyakit Vsd (Vaskular Streak Dieback)

Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cendawan Oncobasidium theobromae pada tanaman kakao. Penyakit ini dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman kakao, mulai dari fase pembibitan hingga fase tanaman berproduksi. Serangan umumnya dimulai dari bagian pucuk pada ranting tanaman.

Penyakit vaskular streak dieback dapat dikenali dari gejala-gejala yang ditimbukannya pada tanaman kakao yang terserang. Gejala tersebut antara lain

  1. Daun kakao menguning dengan bercak-bercak berwarna hijau muda,
  2. Terdapatnya 3 noktah hitam pada bekas duduk daun bagian dalam dan jaringan kayu yang dipotong,
  3. Jika dibelah, noktah hitam tersebut terlihat lebih jelas dalam bentuk garis-garis hitam,
  4. Pada serangan akut yang tanpa pengendalian, tanaman akan menjadi gundul karena kerontokan daun yang terus terjadi.

Penyakit vaskular streak dieback  jika tidak dikendalikan dengan serius dapat mengakibatkan penurunan produktivitas kebun bahkan dapat hingga mengakibatkan kematian tanaman. Hal ini terjadi karena rontoknya daun yang disebabkan oleh VSD mengakibatkan proses fotosintesis tanaman menjadi terhambat.

Penggunaan bibit yang bebas VSD dan bibit dari klon tahan seperti DRC 15 dan ISC 13 sangat penting untuk mencegah serangan penyakit VSD di kebun. Jika gejala serangan penyakit vaskular streak dieback sudah muncul di kebun, teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampaknya adalah dengan memotong bagian ranting yang di kayunya terdapt 3 noktah hitam. Pemotongan dilakukan hingga 3 noktah hitam pada bagian kayu yang terpotong tidak tampak lagi dan jika perlu pemotongan dilakukan pada jarak 30 cm dari bagian tersebut. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan meminimalisasi kelembaban kebun melalui pemangkasan, menguatkan sistem kekebalan tanaman melalui pemupukan berimbang, serta sanitasi kebun.

 Pengenalan gejala serangan pada tanaman, organisme penyebab, siklus hidup, dan teknik pengendalian yang tepat dari beberapa serangan organisme pengganggu tersebut adalah penting demi tercapainya tujuan dunia perkakaoan tanah air. Yang perlu diingat adalah bahwa berbagai hama dan penyakit yang akan dibahas sebetulnya dapat dikendalikan melalui pemangkasan yang tepat waktu, tepat jenis, tepat cara, dan tepat sasaran. [sumber: detiktani.blogspot.com]

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan