Opini | Kehadiran Gampong dalam sosial media jangan menjadi bumerang bagi nama baik gampong itu sendiri.

Dunia-Maya
Ilustrasi sosial media

Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi informasi pun ikut berkembang dengan pesatnya. Dengan perkembangannya tersebut, berbagai macam kegiatan atau pekerjaan manusia pun sudah dapat digantikan dengan mesin-mesin otomotis. Pada awalnya manusia harus mengeluarkan kemampuan fisiknya yang cukup besar untuk melakukan kegiatan atau pekerjaannya tersebut, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Perkembangan teknologi informasi sudah sangat diakui memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Di era globalisasi ini sepertinya segala instansi itu belum lengkap tanpa adanya website, website sendiri sangat berperan penting dalam menunjang kesuksesan, ketenaran suatu instansi hingga dikenal oleh khalayak ramai, sehingga tidak salah jika bisa dibilang website adalah media paling jitu untuk mempromosikan segala sesuatu termasuk Gampong.

Bicara website itu sudah terlalu tinggi untuk masyarakat awam  yang menetap di pedalaman, masyarakat pedalaman lebih mahir dalam menjalankan sosial media faceebook yaitu dengan membuat grup atau fanpage sebagai perkumpulan meraka di dunia maya dengan nama Gampong meraka (grup promosi gampong)  atau nama lain misal meupantoen (grup tempat berpantun) dan lain lain dengan berbagai nama, biasa yang buat grup ini adalah kaum remaja yang mernajak dewasa yang baru mengenal sosial media facebook, namun ada juga  beberapa anak muda yang membuat blog atau website untuk gampong mereka, ini biasanya dilakukan oleh pemuda yang sedang atau telah mencicipi pendidikan sekolah tinggi  atau pemuda yang betul-betul ingin adanya suatu perubahan besar di Gampong meraka.

Gampong adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Aceh, Indonesia. Gampong berada di bawah Mukim. Gampong merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat ini banyak Gampong yang belum mempunya kantor keuchik sebagai pusat admistrasi Gampong dan pusat data Gampong sehingga tata kelola pemerintahan Gampong berjalan lamban dan amburadur.

Oleh sebab itu muncul kelompok remaja yang meranjak dewasa ingin berkarya membangun gampongnya agar dicap sebagai Gampong maju maka kelompok remaja ini memanfaatkan kecangihan teknologi informasi masa kini untuk memperkenalkan  Gampong meraka pada khalayak ramai melalui sosial media facebook dengan membuat akun resmi atau grup,fanpage, namun jika sosial media yang mereka gunakan tidak dikendalikan dengan baik (masih main-main/tidak resmi) akan menjadi bumerang bagi nama baik Gampong mereka sendiri yaitu merusak citra nama baik Gampong, sebut saja salah satu Gampong di Kabupaten (tidak kami sebutkan nama kabupaten) baru-baru ini membuat sebuah grup, tanggal 27 Agustus sudah mempunyai anggota sekirar 7.000 lebih, padahal penduduk yang berdomisili di Gampong itu sekitar kurang lebih 300 jiwa, entah dari mana saja anggota grup mereka undang.

Bahasa percakapan di grup pun tidak mencerminkan orang yang berpendidikan, bahkan ada yang upload photo anak-anak tampa pakaian dengan tulisan generasi penurus Gampong dan ada yang tanyak siapa pereman di Gampong situ, ada yang pamer dara dusun “gadis bunga desa” ada yang cari cewek jomblo, ada yang ajak taruhan. ada yang tidak mau dirinya dimasukan ke dalam grup tersebut karena dirinya bukan warga situ dan ada yang telah keluar sendiri namun dimasukan lagi, waktu diberikan arahan supaya nama Gampong tidak menjadi korban malah bibilang jangan ceramah disini, surat kamu tidak berlaku disini, loh siapa suruh masukan lagi saya ke grup ini padahal saya sudah keluar sendiri.

Berikut ini ada beberapa cuplikan pesan didinding grup yang penulis kutip, pesan-pesan ini mejadi suatu hal yang kontroversi dan merusak nama baik mereka sendiri,  “grup bgai soe yg mrsa awk (nama tempat) ureng bagai”, dicap bodoh. “hoe ka cewek yg galau…kunoe jak mangat ku sodesigoe sapoe….tungkat ali pih that krueh ka jibudoeh…”, kontroversi. “Keluarkan saia darii gr0p yang gag jelas inii,,,kurang kerjaan x yg tmbahin aku k gr0p gag jelas ini”, “Eehhh….koc loen ikot”an di peutamong lam grup nyoe. Hana ku pinah u (nama tempat) lom beh. Manteng di kayee jatoe kuh.” Orang kayei jatoe dimasukan ke grup dia protes, dibilang saya belum pindah ke (nama tempat) hahahah kasihan dech loe admin. “hai sewek ile sidro beu awak gampong (nama tempat), ada yang cari pacar nieh !.  “ci tunyok jaro toh awak inong (nama tempat )” , “pat ile gampong (nama tempat) nyan,” jangan tanya disini bung ini grup tidak jelas. “(nama tempat) nyan pat lee,, long koen ureung (nama tempat), ka salah peutamoeng nyoe..Ka geu let qu ieh..” salah memasukan anggota hahahahah admin tidak serius. “ puep chok rhoh,kepeu kayak peutameng kee keunoe,pue na inoe, pane gruop saket ule nyoe, pungoe.”, “Grup saket,,,,,”Aleh pu jitamah drokuh lam grup nyoe. Hana mupei pih”. Hahahha kasihan dech loe menjadi korban grup tidak jelas.

Untuk mencegah agar tidak menjadi bumerang bagi nama baik Gampong itu sendiri anggota grup yang ditambahkan adalah yang orang dari Gampong mereka sendiri dan admin harus bekerja extra menghapus semua photo atau pesan didindig yang berbau kontroversi/tidak sehat, kehadiran Gampong dalam sosial media harus bisa memberikan dampak Positif untuk kemajuan Gampong jangan kebanyakan sisi  Negatif “dicap bodoh atau gila”. Dampak postitif misal ada kegiatan kanduri blang di Gampong, Potret kanduri Blang upload ke sosial media tulis redaksi sendikit khaduri blang itu adalah sebuah tradisi ritual sebelum turun ke sawah bla bla bla bla, otomatis orang yang melihat konten ini akan bertanya dimana kah Gampong (nama tempat), adatnya masih kental, ayo kita wisata ke sana kita lihat langsung proses khanduri blang (pikiran orang yg lihat.), tulisan ini hanya sebatas pendapat “opini” supaya kedapannya lebih baik lagi dari sebelumnya, tempat kami rahasiakan. Jika ada yang merasa dirugikan dari tulisan ini, saya penulis minta maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis

Safwaturrrahman
email : Safwaturrahman@gmail.com

Pemerhati Gampong / redaksi www.gampongcotbaroh.desa.id

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan