Budaya Top Teupong Masih Bisa dijumpai di Gampong Cot Baroh Walaupun Telah Dikikis Oleh Perubahan Zaman

Jeungki
Budaya Top Teupong di Gampong Cot Baroh | Photo By Efendi Sapurtra

Jeungki salah satu alat penumbuk padi menjadi beras atau penumbuk beras menjadi tepung. Dulunya biasa digunakan orang Aceh di daerah perkampungan, konon kini kabarnya  jeungki telah langka di Kabupaten Pidie dan daerah lainnya. Kelangkaan itu terjadi selama menjamurnya kilang padi mini (mesin gilingan padi gabah ukuran kecil atau lebih dikenal kilang padi keliling) dan jasa gilingan tepung di berbagai Gampong, sehingga ibu rumah tangga cenderung membawa gabah kiring giling ke kilang padi atau membawa beras yang telah direndam ke jasa pengilingan untuk digiling menjadi tepung karena prosesnya akan lebih cepat.

Gampong Cot Baroh yang terletak di Mukim Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie memiliki sebuah badan usaha milik Gampong (BUMG) kilang padi dan letak Gampong Cot Baroh sendiri berdekatan dengan jasa pengilingan tepung di Gampong Bili Aron dan Gampong Mamplam dan Gampong Meunasah Teumpeun Teupin  Raya, akan tetapi masyarakat Gampong Cot Baroh masih cinta akan budaya top teupoh itu sendiri, tidak goyah dengan rayuan mesin yang proses kerjanya lebih cepat dan tidak capek, saat ini masih bisa dijumpai masyarakat Gampong Cot Baroh yang menumbukan beras menjadi tepung menggunakan alat tradisional yang dinamakan dengan jeungki, meski telah dikikis oleh perubahan zaman moderen jeungki masih menjadi primadona di kalangan masyarakat Gampong Cot Baroh.

Jeungki itu sendiri terbuat dari pohon mane yang dibuat dengan bagus dan penuh seni, panjang jeungki 2.5 meter dengan di ujungnya dibuat alu, biasaya untuk alu kayu yang lebih lunak diujungnya dibuat lesung, juga dari kayu pohon mane atau kayu lainya. Dulunya, tiap ruamh adat Aceh memiliki Jeungki, karena adanya jeungki proses penumbukan gabah (padi) menjadi beras, beras ke tepung, lebih murni, lebih-lebih kalau mendekati hari lebaran atau untuk persiapan pesta perkawinan preh linto baroe, banyak ibu rumah tangga di daerah perkampungan melakukan kegiatan menumbuk tepung (top teupong) sebagai bahan baku berbagai jenis kueh persiapan dalam menyambut tamu lebaran atau untuk bahan kueh pesta perkawinan preh linto baroe.

Kebiasaan wanita gampong beramai-ramai melakukan top teupong, dalam proses  sebuah jeungki ada empat sampai lima wanita bekerja secara saling membantu. Bagi para gadis berdiri menginjak di ujung jeungki, sementara ibu rumah tangga duduk dipinggir lesung menjaga tepung sambil menghasilkan (hayak). Dengan adanya jeungki juga akan menjadi budaya saling membantu atau bekerjasama ibu rumah tangga dalam segala hal. Namun, selama langkanya jeungki bagi wanita Gampong mulai renggang pula keakraban dan kebersamaan di dalam Gampong.

Suatu hal paling disesalkan selama hilangnya jeungki di Aceh, selain hilang kebersamaan di kalangan ibu rumah tangga juga paling sedih bagi anak-anak gadis Gampong di Aceh, banyak yang tidak mengenal jeungki alat penumbuk padi, selama itu pula para gadis juga tak mampu meracik kueh khas Aceh, apalagi dalam beberapa tahun kalangan ini menjadi kebiasaan tiap lebaran berbagai jenis kueh dibeli di kota yang telah diistilahkan “kueh Tunjok” artinya kueh saat di beli di tunjuk, ini se kilo, itu dua kilo, itu seper empat. Padahal, bagi masyarakat Aceh suatu hal seharusnya hal ini tak terjadi dan dapat menghasilkan budaya  Rakyat Aceh tetap jaya.

Bagi yang tidak tau jeungki bisa datang langsung ke Gampong Cot Baroh, Jln Paya Raoh Km 2.5 Gampong Cot Baroh Mukim Aron Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie atau ke Rumah adat Aceh di Komplek Mesium Aceh di Banda Aceh dekat Pendopo Gebernur Aceh atau Anjong monmata. [ Redaksi]

*Tulisan ini telah diubah dari sumber aslinya www.acehshimbun.com | lebel budaya.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan