Paya Raoh Warisan Daud Beureueh

DSC00933
Paya Raoh Satu (Neulop 1)

Paya Raoh warisan peninggalan Abu Daud Beureueh sudah banyak orang bercerita tentang daya magis kepemimpinan Daud Beureueh. Tokoh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) itu tak hanya dikenal sepak terjangnya memimpin perang gerilya dan berpidato menyihir massa, tetapi juga tak segan-segan mengayun cangkul dan bergelimang lumpur bersama rakyatnya.Salah satu kisah yang abadi adalah apa yang terjadi di Paya Raoh, Pidie, 14 Juli 1963. Saat itu, Daud Beureueh yang sudah turun gunung, memimpin kerja bakti yang melibatkan 2.000 orang untuk menrenovasi bendungan saluran irigasi yang telah dibangun sebelumnya oleh seorang Tgk yang dikenal oleh kalangan masyarkat Gampong Cot Tunong dan Gampong Cot Baroh dengan sebutan Tgk Raoh, Sehingga bendungan irigasi diberi nama dengan Paya Raoh ( Paya dalam bahasa Aceh Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia bendungan atau waduk) Pada saat itu rakyat yang kecewa karena bupati setempat tak kunjung menyelesaikan masalah pengairan sawah, mendatangi Daud Beureueh. Di tangan ulama itu, masalah pun terpecahkan.

Bo22Ua_CcAA-tpa
Paya Raoh 14 Juli 1963

Paya Raoh terletak 10 kilometer dari tepi jalan lintas Banda Aceh – Medan. Untuk menelusuri saluran irigasi tersebut saluran irigasi sepanjang 17 kilometer itu harus melaui Pasar Teupin Raya melewati jalan Paya Raoh tepatnya di Gampong Cot Baroh dan Gampong Cot Tunong, Gampong Cot Tunong dan Gampong Cot Baroh adalah Gampong pertama yang dilewati oleh saluran irigasi Paya Raoh. Saluran irigasi Paya Raoh digunakan  mengairi sawah di beberapa gampong di kemungkiman Aron Kecamatan Glumpang Tiga dan Pidie Jaya, di antaranya  Gampong Cot Tunong, Gampong Baroh, Gampong Amud Masjid, Gampong Krueng Jangko, Gampong Krueng Nyong, Gampong Simpang dan Gampong Tanoh Mirah (Pidie Jaya). Tak heran, sebab kondisinya selalu dipelihara dan telah beberapa kali mengalami sentuhan renovasi. Ada empat orang tokoh setempat yang menyokong ayunan cangkul . Mereka adalah Teungku Raoh, Daud Beureueh, Imuem Leman, Alamsyah, dan Cut Ka Oy dan dan sekarang Pemerintah dengan APBK, APBA, APBN.

DSC_0001125
Reovasi Paya Raoh Tahun 2013

Saluran irigasi itu bermula dari sepetak dam air yang terbuat dari tanah. Saat Daud Beureueh hendak membedahnya menjadi saluran air, tanpa dipaksa warga masyarakat datang berbondong-bondong membantu. Dari orang tua hingga yang muda, semua tumpah ruah di lokasi tersebut. Bahkan, tak jarang Daud Beureueh terpaksa mengusir pulang anak-anak yang terlalu muda usia untuk bekerja. “Waktu itu saya tidak dikasih ikut gotong royong oleh Abu karena usia saya masih muda. Saya diusir dengan dipukul pakai tongkatnya,” kenang Syakhwat sambil tersenyum. Kini usianya sudah 58 tahun. Dia adalah warga Gampong Cot Tunong, Glumpang Tiga, Pidie. Abu Beureueh sendiri bukan sarjana teknik sipil. Karena itu, menurut Syakhwat, saat itu ada seorang insinyur dan para tukang terampil yang didatangkan khusus dari Sigli. “Kontraktor dan tukangnya semua dari Sigli,” kata Syahkwat. Sementara bahan bangunan seperti semen didatangkan dari Medan dan Banda Aceh dengan truk.

DSC00931

Beberapa hari sekali, kenang Syahkwat kecil, dia melihat truk tersebut singgah untuk membongkar muatan. Menurut Nur El Ibrahimy yang juga menantu Daud Beureueh, proyek tersebut sepeserpun tak menggunakan dana pemerintah. Konon dana yang dihabiskan mencapai Rp 100 juta di masa itu. Di bawah pengawasan langsung Abu Beureueh, masyarakat dan para tukang yang membangun irigasi, bekerja bergantian siang dan malam. Sedangkan untuk tempat tinggal bagi mereka yang bekerja, dibangunlah semacam rumah sementara yang terbuat dari bambu, bak gubuk-gubuk semasa Daud Beureueh masih bergerilya.

DSC00929

Paya Raoh sekarang sangat berbeda dengan dulu, setelah Aceh Damai berkat terjalinnya Nota Kesepahaman  antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia 15 Agustus 2005. Paya Raoh telah dan tengah (sedang berlangsung) renovasi besar-besaran  yaitu dengan memperluas dan memperdalam Paya Raoh, Tapi sangat  disayangkan pada saat renovasi Paya Raoh pasca Aceh Damai di Paya Raoh Neulop Ateuh salah satu bukti sejarah pembangunan Paya Raoh yaitu roli pengangkut tanah beserta relnya yang terbuat dari baja telah dijual untuk perluasan biaya renovasi Paya Raoh.

DSC00948
Paya Raoh Dua (Neulop Ateuh)

Saat ini Paya Raoh terdapat dua waduk yaitu Neulop Muyup dan Neulop Ateuh (Neulop dalam Bahasa Aceh jika di artikan dalam Bahasa Indonesia berati Waduk) Neulop Ateuh digunakan sebagai tempat penampungan air sedangkan Neulop Muyup digunakan sebagai tempat distribusi air ke beberapa Gampong Sekitar Kemungkiman Aron. Paya Raoh sangat cocok di jadikan pusat wisata lokal, layaknya waduk keliling di Indrapuri Aceh besar, Paya Raoh yang terletak di kelilingi oleh perkembunan masyarakat menyimpang panorama alam yang sangat indah yang patut untuk di kembangkan. Kendala utama untuk mengambangkan prawisata Paya Raoh adalah Kondisi jalan menuju ke Paya Raoh berlumpur karena jalan belum teraspal semuanya dan PLN belum berani masuk ke Paya Raoh karena belum ada konsumen disana. (Dari Berbagai Sumber)

Video Petunjuk Jalan Menuju Paya Raoh

Video konsidi jalan menuju Paya Raoh, Vedeo di ambil dari kawasan bukit Cot Supeng Gampong Cot Tunong

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan