Demokrasi Terkakang Ala Warga Pinggiran

Seiring  Jalannya  waktu setelah damai terjadi di Bumi Aceh Masyarakat tetap saja tidak dapat menikmati kebebasan dalam mengeluarkan pendapat ide dan gagasan demi kemajuan dalam merengkuh secekal harapan lembaran kata hati, Damai merupakan impian dan harapan bagi masyarakat Aceh yang telah sekian lama di dera konflik yang berkempanjangan  dan telah mengorbankan jiwa yang tidak sedikit, Janda-janda dan anak yatim pada saat ini merupakan inbas dari konflik yang berkempanjangan, pilkda dan pemilu hanya menyesiahkan luka yang susah dicari obatnya, akan kata hati masyarakat menentukan hak untuk menitipkan secercah harapan pada pundak pemimpin tapi lagi-lagi demokrasi ala warga pinggiran yang selalu mengedepankan kekerasan dan pemaksaan dalam menentukan pemimpin yang mereka arahkan.

Meskipun sang pemimpin tersebut ada yang hanya berpendidikan S3 (SD, SMP, SMA), maupun paket C itu lah demokrasi demi tercapainya kemauan suatu kelompok. 12 Partai Politik Nasional dan 3 Partai Politik Lokal yang akan diseguhi sandiwara demokrasi ke masyarakat dengan asumsi kemenangan partai tertentu merupakan kemenangan bagi masyarakat aceh dengan alasan demi menjaga hasil Mou Helsinki. Masyarakat selalu menjadi landang empuk bagi setiap caleg yang bernafsu untuk mengapai kursi di parlemen, lagi-lagi demokrasi tidak menjadi suatu jaminan wakil-wakil yang akan terpilih nantik bener-bener hasil pilihan di tps melainkan titipan dan pemaksaan ke arah caleg2 tertentu, demokrasi oh demokrasi entah sampai kapan hal ini akan terjadi di tanah para sultan, hanya waktu dan kebebasan dalam menentukan hak di TPS lah tertumpu demokrasi yang sebenarnya.

Bireun 22 Februari 2014 │Muhammmad Dahlan Gantoe │

Email :  Dahlangantoe@yahoo.com │

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan